PERAWAT ASROB

6 Oktober 2009

Luka Bakar (Burn) bag.I

Filed under: K D M — ROBBY BEE @ 7:22 AM

A. Pengertian

Luka bakar (burn) adalah lesi jaringan akibat terbakar oleh bahan kimia, panas kering, arus listrik, nyala api, friksi atau radiasi; diklasifikasi menjadi ketebalan penuh dan parsial seseuai dengan kedalaman kulit yang mengalami kerusakan: luka bakar ketabalan penuh memerlukan tandur kulit.( Hancock Christine, 1999 ). An energy transfer from a heat source to the body, heating the tissue enough to cause gamage, will result in a burn injury. ( Dolan et all, 1999 ) Luka bakar adalah suatu keadaan kerusakan jaringan tubuh (kulit) yang disebabkan oleh berbagai hal antara lain jilatan api, air panas, listrik dan zat kimia. ( Dr. Med. A. Ramli & Pamoentjak, 1996 ).

B. Anatomi fisiologi Kulit

Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasi dari lingkungan hidup manusia. Luas kulit orang dewasa sekitar 15 m2 dengan berat kira-kira 15 % dari berat badan. Kulit merupakan organ yang essensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan, kulit juga sangat komplek, elastis dan sensitif bervariasi pada keadaan iklim, umur, seks, ras dan juga tergantung pada lokasi tubuh. Warna kulit juga berbeda-beda, mulai dari kulit yang berwarna terang (fair skin), pirang dan hitam, warna merah muda pada telapak kaki dan tangan bayi serta warna hitam kecoklatan pada genitalia orang dewasa. Kulit bervariasi dalam hal lembut, tipis, dan tebalnya; kulit yang elastis dan longgar terdapat pada palpebra, bibir dan preputium, kulit yang tebal dan tegang terdapat pada telapak kaki dan tangan orang dewasa, kulit yang tipis terdapat, pada muka, yang lembut pada leher dan badan, serta yang berambut kasar terdapat pada kepala.

Secara histopatologik, kulit secara garis besar tersusun atas 3 lapisan utama, yaitu;

a. Lapisan Epidermis atau kutikel Terdiri atas : stratum korneum, yang merupakan lapisan kulit paling luar dan terdiri atas beberapa lapis sel-sel gepeng yang mati, tidak berinti, dan protoplasmanya telah berubah menjadi keratin, Stratum lusidum, merupakan lapisan sel-sel yang tidak berinti dengan protoplasma yang telah berubah menjadi protein yang disebut eleidin. Lapisan tersebut tampak lebih jelas di telapak tangan dan kaki, Stratum granulosum, merupakan dua atau tiga lapis sel-sel gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar dab terdapat inti diantaranya. Butir-burti kasar ini terdri atas keratohyalin. Mukosa biasanya tidak mempunyai lapisan ini, stratum granulosum juga terlihat ditelapak tangan dan kaki, Stratum spinosum, disebut juga prickle cell layer (lapisan akanta) terdri antara beberapa lapis sel yang berbentuk poligonal yang besarnya berbeda-beda karena adanya proses mitosis. Protoplasmanya jernih karena banyak mengandung glikogen, dan inti terletak di tengah-tengah. Sel-sel ini makin dekat ke permukaan makin gepeng bentuknya, dan diantara sel-sel stratum spinosum terdapat jembatan-jembatan antar sel yang terdiri dari atas protoplasma dan tonofibril atau keratin. Perlekatan antar jembatan-jembatan ini membentuk ‘penebalan bulat kecil yang disebut nodulus bizzozero. Diantara sel-sel spinosum terdapat pula sel langerhan. Sel-sel spinosum banyak mengandung glikogen, Stratum basale, merupakan sel-sel berbentuk kubus atau kolumnar yang tersusun vertikal pada perbatasan dermo-epidermal berbaris seperti pagar (palisade). Lapisan ini merupakan lapisan epidermis yang paling bawah. Sel-sel basal ini mengadakan mitosis dan berfungsi reproduktif. Laspisan ini terdiri dari dua jenis sel yaitu; sel-sel yang berbentuk kolumnar dengan protoplasma bisofilik, inti lonjong dan besar dihubungkan satu dengan yang lain oleh jembatan antar sel dan sel pembentuk melanin (melanosit) atau clear cell.

b. Lapisan dermis (korum, kutis vera, true skin ). Terdapat dibawah epidermis dan jauh lebih tebal. Lapisan ini terdiri atas lapisan elastik dan fibrosa padat dengan elemen-elemen seluler dan folikel rambut. Secara garis besar dibagi menjadi 2 bagian, yaitu; pars papilare dan pars retikulare.

c. Lapisan subkutis (hipodermis). Adalah kelanjutan dermis, terdiri dari atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak didalmnya. Sel lemak merupakan sel yang bulat, besar, dengan inti yang terdesak ke pinggir sitoplasma yang bertambah. Sel-sel ini membentuk kelompok yang dipisahkan satu dengan yang lain oleh trabekula yang fibrosa. Lapisan sel-sel lemak disebut panikulus adiposa, yang berfungsi sebagai cadangan makanan. Pada lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah dan getah bening, ketebalan jaringan lemak tidak sama tergantung pada lokasinya. Di abdomen dapat mencapai kedalaman 3 cm, didaerah kelopak mata dan penis sangat sedikit. Lapisan lemak ini juga merupakan bantalan. Vaskularisasi kulit diatur oleh dua pleksus yaitu pleksus yang terletak dibagian atas dermis disebut pleksus superfisialis dan pleksus yang terletak di subkutis yang disebut pleksus profunda. Pleksus dibagian dermis mengadakan anastomosis di papil dermis, pleksus yang di subkutis dan pars retikular juga mengadakan anastomosis, dibagian ini pembuluh darah berukuran lebig besar. Bergandengan dengan pembuluh darah yang terdapat pada saluran getah bening. Walaupun demikian sebenarnya tidak ada garis tegas yang memisahkan dermis dan subkutis. Secara fisiologis kulit mempunyai beberapa fungsi diantaranya adalah; fungsi proteksi, absorbsi, ekspresi, persepsi, termoregulasi, pembentukan pigmen dan keratinisasi. (count..)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: