PERAWAT ASROB

6 Oktober 2009

CEDERA KEPALA (Head Injury)

Filed under: KMB — ROBBY BEE @ 5:49 AM

DEFINISI

Cedera kepala merupakan trauma kulit kepala, tengkorak, otak. Cedera kepala penyakit neurologik yang serius diantara penyakit neurologik, dan merupakan proporsi epidemik sebagai hasil kecelakaan lalu lintas. Resiko utama klien yang mengalami cedera kepala adalah kerusakan otak akibat perdarahan atau pembengkakan otak sebagai respon terhadap cedera yang menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial. Komosio serebral setelah cedera kepala adalah hilangnya fungsi neurologik sementara tanpa kerusakan struktur. Komusio meliputi sebuah periode tidak sadarkan diri dalam waktu yang berakhir selam beberapa detik sampai beberapa menit. Kontusio serebral merupakan cedera kepala berat, dimana otak mengalami memar, dengan kemungkinan adanya daerah hemoragi. Klien berada pada periode tidak sadarkan diri. Biasanya timbul gejala khas yaitu : denyut nadi lemah, pernafasan dangkal, kulit dingin dan pucat, sering terjadi defekasi dan berkemih tanpa disadari. Hemoragi intraserebral adalah perdarahan ke dalam substansi otak. Terjadi dimana tekanan mendesak ke kepala sampai daerah kecil.

ANATOMI FISIOLOGI

Otak merupakan bagian dari sistem saraf pusat dan terletak di dalam rongga tengkorak dan merupakan massa paling besar pada jaringan saraf dalam tubuh yang berisi milyaran sel-sel saraf. Susunan otak terdiri dari tiga bagian, yaitu : otak depan, tengah dan belakang. Bagian otak depan terdiri dari serebrum dan diencephalon, cerebrum merupakan bagiantak terbesar dengan berat sekitar 75 % dari total berat otak. Di dalam cerebrum terdapat pusat saraf yang mengatur seluruh aktifitas sensorik dan motorik. Cerebrum terbagi menjadi dua belahan/hemisfer diri dan kanan. Setiap hemisfer terdiri dari empat lobus yaitu; frontalis, temporal, parietal dan occipital. Di samping keempat lobus, kadang-kadang disebutkan dua lobus lainnya, yaitu insula (lobus sentral) dan diencephalon yang berperan dalam penciuman, emosi, perilaku dan respon seksual serta beberapa reflek viseral. Pada setiap hemisfer cerebrum terdapat ganglia basalis berperan dalam mempengaruhi tonus dan sikap tubuh dan menyatukan gerakan-gerakan otot-otot sadar utama. Diencephalon terdiri dari thalamus dan hipotalamus. Thalamus terutama berkenaan dengan penerimaan impuls sensorik yang dapat ditafsirkan pada tingkat subkortikal atau disalurkan pada daerah sensorik kortek otak dengan tujuan mengadakan kegiatan penting mengatur perasaan dan gerakan pada pusat-pusat tertinggi. Hipothalamus terletak pada daerah dasar atau lunas ventrikel ketiga. Nukleusnya mempunyai hubungan dengan lobus posterior kelenjar hipofisis pada sistem endoktrin, di mana melakukan pengendalian juga mengatur fungsi-fungsi pengaturan suhu tubuh, lapar dan haus, keseimbangan cairan, tidur. Otak tengah (mesencephalon) dibagi dalam dua tingkat yaitu : atap yang mengandung banyak pusat reflek yang penting untuk penglihatan dan pendengaran dan jalur motorik kasar yang turun dari kapsula intern melalui bagian dasar otak tengah, menurun terus melalui pons dan medula oblongata menuju sumsum tulang belakang, otak tengah mengandung pusat-pusat yang mengendalikan keseimbangan dan gerakan-gerakan mata. Otak belakang dari cerebrum, pons dan medula oblongata, cerebrum adalah bagian terbesar dari otak belakang. Fungsi cerebrum mengatur sikap dan aktifitas sikap badan berperan penting dalam koordinasi otot-otot dan menjaga keseimbangan. Medula oblongata berisi beberapa pusat vital (pernafasan, heart rate, vomiting, cegukan).

ETIOLOGI

Kebanyakan cedera kepala merupakan akibat salah satu dari kedua mekanisme dasar yaitu : 1. Cedera kontak bentuk Terjadi bila kepala membentur atau menabrak suatu objek atau sebaliknya 2. Cedera guncangan lanjut : cedera akselerasi Merupakan akibat peristiwa guncangan kepala yang hebat baik yang disebabkan oleh pukulan maupun yang bukan karena pululan penyebab yang tersering dari cedera kepala adalah kecelakaan lalu lintas. MANIFESTASI KLINIS • Gangguan kesadaran • Konfusi • Abnormalitas pupil • Awitan tiba-tiba defisit neurologik • Perubahan tanda-tanda vital • Gangguan penglihatan dan pendengaran • Disfungsi sensori • Kejang otot • Sakit kepala • Vertigo • Gangguan pergerakan • Kejang

PATOFISIOLOGI

Kepala dapat mengalami cedera akibat benturan langsung suatu benda atau kepala yang membentur suatu benda yang keras. Pada tempat benturan dapat terjadi indentasi, fraktur linier, fraktur stelatum (berbentuk bintang), fraktur depresi, ataupun tidak terdapat apa-apa hanya udema atau perdarahan subcutan saja. Akibat trauma ini pasien bisa pingsan sejenak lalu sadar kembali dan tidak menunjukkan kelainan apapun, pingsan beberapa jam kemudian menunjukkan gejala organik brain syndrom untuk sementara waktu atau pingsan lama lalu sadar namun menujukkan defisit neurologik, bahkan meninggal langsung waktu mendapat trauma atau sedikit lama setelah kecelakaan. Pada kontusio cerebri terjadi suatu akselerasi kepala yang seketika itu juga timbul pergeseran otak serta pengembangan gaya kompresi yang bersifat destruktif. Timbulnya lesi kuntosio di daerah benturan menimbulkan gejala defisit neurologik yang bisa berupa reflek Babinski positif dan kelumpuhan upper motor neuron. Akibat gaya yang dikembangkan oleh mekanisme-mekanisme yang beroperasi pada trauma kepala tersebut di atas, autoregulasi pembuluh darah serebral terganggu, sehingga terdapat vasoparalisis. Tekanan darah menjadi rendah dan nadi menjadi lambat atau menjadi cepat dan lemah. Juga karena pusat vegetatif ikut terlibat maka rasa mual dan muntah dan gangguan pernafasan bisa timbul. Kematian penderita kontusio beberapa hari setelah kecelakaan umumnya bukan disebabkan oleh beratnya lesi kontusio tapi karena komplikasi kardiopulmonal. Sistem vaskuler bisa terkena secara langsung karena perdarahan atau trauma langsung terhadap jantung. Sebagai reaksi tubuh volume sirkulasi ditambah dengan cairan yang berasal dari ekstraseluler. Keadaan ini bisa menjurus ke hemodilusi jika penderita diberi cairan melalui infus tanpa darah atau plasma. Komplikasi yang memperberat keadaan di atas disebabkan oleh berkembangnya asidosis. Pasien kontusio pada hari pertama masih tidak sadar, pernafasannya terganggu, reflek batuk dan menelan belum pulih juga. Karena itu mudah terjadi depresi pernafasan dengan bronkhopneumoni aspirasi, sehingga PO2 arteri menurun dan PCO2 meningkat. Keadaan demikian mengakibatkan takhikardi yang lebih memperburuk output jantung. Karena asidosis rintangan darah ke otak mengalami kerusakan sehingga timbulah udema serebri, yang lebih mengurangi aliran darah ke otak, yang ditunjukkan dengan keadaan penderita yang koma dengan tanda-tanda shock dan hiperpireksia. Pasien kontusio bisa memperlihatkan sindroma metabolik lain sebagai ikut terkenanya hipothalamus. Bila terjadi kontusio batang otak, menyebabkan pasien tidak responsif atau setengah koma karena perobekan batang otak. Terdapat abnormalitas neurologis lain yang biasanya simetris (pada kedua sisi tubuh). Beberapa diantaranya mungkin mengalami lateralisasi (asimetris), menunjukkan perkembangan dari dampak sekunder seperti hematom. Gejala tambahan terhadap penurunan tingkat kesadaran yang selalu ada pada kontusio batang otak mungkin terjadi abnormalitas pernafasan, pupil, gerakan mata dan motorik.

PENGKAJIAN

Pada pasien dengan kontusio riwayat keperawatan perlu untuk menjelaskan permasalahan keperawatan. Jika pasien tidak sadar/koma maka data-data yang diperlukan untuk mengetahui riwayat keperawatan yang dapat diambil dari keluarga, teman atau orang-orang yang dekat dengan pasien, terutama yang berada disekitar kejadian untuk mengetahui apa penyebab terjadinya trauma kepala, bagaimana kecepatan proyektilnya. Apakah terjadi pingsan/riwayat kehilangan kesadaran, apakah ada perdarahan melalui mulut, hidung dan telinga. Riwayat lain yang perlu dikaji yaitu riwayat medis dan pembedahan, penggunaan alkohol atau obat-obatan. Dalam pemeriksaan fisik perlu dikaji tanda-tanda vital, hasil pemeriksaan biasanya didapatkan suhu meningkat, bisa mencapai 40 derajat Celsius, nadi bradikardi, pada kedaan berat nadi takhikardi, pernafasan tidak teratur bradipnea, pada keadaan berat cheyne stokes, bila kontusio terjadi karena incisura tentorial maka pernafasan mengorok. Pada tekanan darah terdapat peningkatan darah sistolik dengan tekanan darah diastolik yang stabil/turun. Pada pemeriksaan kepala dan leher, pemeriksaan seluruh kepala untuk mengetahui adanya fraktur tengkorak, perdarahan lubang hidung, telinga dan mulut. Bila ada cairan keluar berwarna putih menunjukkan adanya kebocoran pada cerebrospinal. Periksa leher pasien dan tentukan apakah ada tanda-tanda fraktur di daerah servical. Dian dan James mengatakan bahwa 20 % pasien trauma kepala juga mengalami fraktur servikal. Hal ini penting diketahui karena jika ada kecurigaan maka resusitasi (tindakan memperlancar pernafasan pasien) hendaknya tanpa hiperekstensi leher atau rotasi, terutama pada fraktur cervical tinggi dapat mengakibatkan kematian mendadak. Pengkajian tingkat kesadaran sangat penting pada pasien trauma kepala terutama kontusio karena merupakan prediktor dan indikator prognosis yang sensitif. Alat yang dipakai untuk menentukan atau mengukur tingkat kesadaran yaitu : Skala Coma Glasgow. Skala koma glasgow menilai tiga aspek perangai pasien dengan sisem skoring. Ketiga aspek itu ialah : 1. Kemampuan membuka mata Pengkajian terhadap kemampuan membuka mata : E – Membuka mata secara spontan 4 – Membuka mata jika diajak bicara 3 – Membuka mata jika ada rangsang nyeri 2 – Tidak ada reaksi 1 2. Kemampuan bicara Pengkajian terhadap kemampuan berkomunikasi pada rangsang verbal :V – Menjawab pertanyaan dengan mantap dan berorientasi pada ruang, waktu dan orang 5 – Jawaban yang lambat 4 – Jawaban yang kacau dan membingungkan 3 – Bereaksi dengan menggumam dengan rangsangan suara keras 2 – Tidak bereaksi 1 3. Aktifitas motorik Pengkajian terhadap rengsangan motorik : M – Mengikuti perintah untuk merubah posisi 5 – Menunjukkan lokasi rasa sakit atau dapat menggerakkan lengan kelokasi rangsang nyeri sebagai usaha untuk menghilangkan rasa nyeri 4 – Fleksi terhadap rangsangan rasa nyeri 3 – Ekstensi lengan terhadap rangsang nyeri 2 – Tidak ada respon motorik walaupun diberi rangsang nyeri 1 Nilai tertinggi E / V / M / = 15 dan terendah = 3. Pasien dengan nilai kesadaran EVM = 7 adalah koma, bila nilai EVM = 8 maka 53 % sudah menjadi koma, sedang nilai EVM = 9 ke atas tidak terhitung koma. Pemeriksaan neurologis lokal : perubahan visual (pandangan kabur, double, photofobia). Kelemahan otot atau paralise, penurunan respon terhadap rangsang sakit tanda babinski positif, keadaan dekortikasi (respon fleksor lengan dan ekstensi pada tungkai), deserbrasi (ekstensor respon pada lengan dan tungkai), kehilangan perasaan pengunyahan dan bau, amnesia, retrograde, aphasia, dysphasia. Pengkajian psikososial meliputi tingkat pendidikan, respon emosional pasien dan keluarga, dukungan keluarga, usia, kepribadian, kecemasan, iritabilitas, agitasi, kebingungan, depresi, impulsif. Pada pasien koma kecemasan keluarga lebih tinggi sehingga perlu dikaji reaksi keluarga terhadap trauma yang dialami pasien, strategi koping yang digunakan , pengetahuan, pengertian keadaan, pengobatan, prognosis, hasil yang diperoleh, kesiapan, dan kemampuan untuk mengerti. Pemeriksaan yang menunjang pada pasien kontusio yaitu pemeriksaan foto rontgen tengkorak. CT Scan biasanya memperlihatkan lesi-lesi kontusio. Pada pemeriksaan MRI dapat diidentifikasi lapisan kontusio, perdarahan, gambaran ventrikel, jaringan otak. EEG dilakukan bila tengkorak dalam keadaan utuh untuk mengetahui adanya gangguan fungsi otak fokal atau global. Pada cerebral angiografi dapat dilihat ketidaknormalan sirkulasi seperti perubahan-perubahan jaringan otak akibat udema. Pemeriksaan yang penting yaitu pemeriksaan gas darah dan elektrolit, hemoglobin dan hematokrit, gula darah, natrium, urine.

EVALUASI DIAGNOSTIK

Pemeriksaan neurogik dan fisik awal memberi data dasar yang akan digunakan untuk perbandingan pemeriksaan berikut. Pemeriksaan CT Scan adalah alat diagnostik pencitraan neuro primer, bermanfaat dalam evaluasi terhadap cedera jaringan lunak.

PENATALAKSANAAN

1. Breathing Pada pasien dengan trauma kepala perlu dilakukan usaha pembebasan jalan nafas dan menjamin ventilasi yuang baik di paru-paru dengan membaringkan pasien pada posisi miring untuk menghindari aspirasi akibat muntah. Selain itu juga perlu tindakan penghisapan lendir, muntah atau darah dari jalan nafas. Pemberian oksigen sebagai terapi perlu dievaluasi dengan pemeriksaan analisa gas darah dan diusahakan P O2 > 80 mmHg, P CO2 tidak lebih dari 30 mmHg, dengan tujuan untuk mencegah vasokonstriksi pembuluh darah otak. Pemasangan pipa endotrakheal dapat juga dilakukan. Tracheostomi terutama bila terjadi perdarahan pada jalan nafas bagian atas, fraktur tulang muka atau trauma toraks. 2. Blood Mencakup pengukuran tekanan darah dan pemeriksaan laboratorium darah (Hb,Leukosit). Pada kontusio cerebri 3-5 hari pertama terjadi ketidakseimbangan air dan natrium, di mana retensi air melebihi natrium, sehingga terjadi hiponatremi relatif. Karena itu kemungkinan over dehidrasi, dehidrasi, intoksikasi air perlu dipertimbangkan. 3. Brain Penilaian GCS, dan bila menunjukan adanya perburukan perlu pemeriksaan mendalam mengenai keadaan pupil (ukuran, bentuk, dan reaksi terhadap cahaya) serta gerakan- gerakan bola mata. Udema cerebri dapat dicegah dengan membebaskan jalan nafas, pembatasan jalan nafas, hipotermia, pemberian obat anti udema. Obat-obat anti udema biasanya : manitol, diberikan melalui infus, gliserol diberikan per infus/oral, kadang-kadang dapat menimbulkan hemolisis intravaskuler bila diberikan melebihi 30 tetes/menit. Kortikosteroid, preparat yang umum dipakai adalah Dexametason dan Metil Prednisolon. 4. Bladder Kandung kemih perlu selalu dikosongkan karena kandung kemih yang penuh merupakan suatu rangsangan untuk mengeden sehingga tekanan intrakranial cenderung lebih meningkat. 5. Bowel Usus yang penuh cenderung akan meningkatkan tekanan intrakranial. Makanan diberikan sesudah 48 jam, kalau pasien belum sadar beri makanan melalui sonde. Jumlah makanan disesuaikan dengan cairan, elektrolit dan kalori yang dibutuhkan

REFERENSI

Brunner dan Suddart. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Vol.1-3. Jakarta: EGC Corwin, Elizabeth. 2003. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC Jones, D. 1982. Medical-Surgical Nursing; A Conceptual Approach. US: McGraw Hill Price, Sylvia. 2005. Patofisiologi ; Konsep Klinis dan Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC Schrock, Theodore R. 1995. Ilmu Bedah. Jakarta: EGC Sjamsuhidayat, R. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC Smeltzer. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah; Vol 1-3. Jakarta: EGC

(sumber lain yang dipublikasikan oleh blogger)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: