PERAWAT ASROB

19 Januari 2010

KEMOTERAPI

Filed under: 1 — ROBBY BEE @ 4:38 PM

A.    Pengertian Sitostatika

Sitostatika adalah suatu pengobatan untuk mematikan sel – sel secara fraksional    ( fraksi tertentu mati), sehingga 90 % berhasil daan 10 % tidak berhasil.

(Hanifa Wignjosastro, 1997)

B.     Tujuan Pemberian Kemoterapi

F  Meringankan gejala

F  Mengontrol pertumbuhan sel- sel kanker

C. Cara Pemberian

Cara pemberian obat sitostatika dapat dilakukan secara :

  1. PO : Per Oral
  2. SC : Sub Cutan
  3. IM : Intra Muscular
  4. IV : Intra Vena
  5. IT : Intra Thecal
  6. IP : Intra Peritoneal / Pleural

Pemilihan vena dan tempat penusukan

Pemilihan vena dan arteri yang tepat serta peralatan yang harus dipakai ditentukan oleh usia pasien, status vena dan obat yang diberikan melalui infus. Lakukan pemilihan vena diatas area yang lentur serta pemilihan iv cateter yang paling pendek dan ukurannya yang paling kecil yang sesuai. Vena yang sering digunakan adalah : Basillic, cephalica dan metakarpal. Tempat penusukan harus diganti setiap 72 jam dan vena yang cocok untuk penusukan terasa halus dan lembut, tidak keras dan menonjol serta memilih vena yang cukup lebar untuk tempat peralatan, media kemoterapi dapat membuat iritasi pada vena dan jarigan lunak.

D. Prosedur

1.  a.    Persiapan

  • Sebelum diberikan kemoterapi maka harus dipersiapkan ukuran TB, BB, luas badan, darah lengkap, fungsi ginjal, fungsi liver, gula darah, urin lengkap, EKG, foto thorax AP/lateral, Ekokardiografi, BMP.
  • Periksa protokol dan program terapi yang digunakan, serta waktu pemberian obat sebelumnya.
  • Periksa nama pasien, dosis obat, jenis obat, cara pemberian obat.
  • Periksa adanya inform concernt baik dari penderita maupun keluarga.
  • Siapkan obat sitostatika
  • Siapkan cairan NaCl 0,9 %, D5% atau intralit.
  • Pengalas plastik, dengan kertas absorbsi atau kain diatasnya
  • Gaun lengan panjang, masker, topi, kaca mata, sarung tangan, sepatu
  • Spuit disposible 5cc, 10cc, 20 cc, 50 cc.
  • Infus set dan vena kateter kecil
  • Alkohol 70 % dengan kapas steril
  • Bak spuit besar
  • Label obat
  • Plastik tempat pembuangan bekas
  • Kardex (catatan khusus)

b.  Cara kerja

Semua obat dicampur oleh staf farmasi yang ahli dibagian farmasi dengan memakai alat “biosafety laminary airflow” kemudian dikirim ke bangsal perawatan dalam tempat khusus tertutup. Diterima oleh perawat dengan catatan nama pasien, jenis obat, dosis obat dan jam pencampuran.

Bila tidak mempunyai biosafety laminary airflow maka, pencampuran dilakukan diruangan khusus yang tertutup dengan cara :

  • Meja dialasi dengan pengalas plastik diatasnya ada kertas penyerap atau kain
  • Pakai gaun lengan panjang, topi, masker, kaca mata, sepatu.
  • Ambil obat sitostatika sesuai program, larutkan dengan NaCl 0,9%, D5% atau intralit.
  • Sebelum membuka ampul pastikan bahwa cairan tersebut tidak berada pada puncak ampul. Gunakan kasa waktu membuka ampul agar tidak terjadi luka dan terkontaminasi dengan kulit. Pastikan bahwa obat yang diambil sudah cukup, dengan tidak mengambil 2 kali
  • Keluarkan udara yang masih berada dalam spuit dengan menutupkan kapas atau kasa steril diujung jarum spuit.
  • Masukkan perlahan-lahan obat kedalam flabot NaCl 0,9 % atau D5% dengan volume cairan yang telah ditentukan
  • Jangan tumpah saat mencampur, menyiapkan dan saat memasukkan obat kedalam flabot atau botol infus.
  • Buat label, nama pasien, jenis obat, tanggal, jam pemberian serta akhir pemberian atau dengan syringe pump.
  • Masukkan kedalam kontainer yang telah disediakan.
  • Masukkan sampah langsung ke kantong plastik, ikat dan beri tanda atau jarum bekas dimasukkan ke dalam tempat khusus untuk menghindari tusukan.

2.   Prosedur cara pemberian kemoterapi

  • Periksa pasien, jenis obat, dosis obat, jenis cairan, volume cairan, cara pemberian, waktu pemberian dan akhir pemberian.
  • Pakai proteksi : gaun lengan panjang, topi, masker, kaca mata, sarung tangan dan sepatu.
  • Lakukan tehnik aseptik dan antiseptik
  • Pasang pengalas plastik yang dilapisi kertas absorbsi dibawah daerah tusukan infus
  • Berikan anti mual ½ jam sebelum pemberian anti neoplastik (primperan, zofran, kitril secara intra vena)
  • Lakukan aspirasi dengan NaCl 0,9 %
  • Beri obat kanker secara perlahn-lahan (kalau perlu dengan syringe pump) sesuai program
  • Bila selesai bilas kembali dengan NaCl 0,9%
  • Semua alat yang sudah dipakai dimasukkan kedalam kantong plastik dan diikat serta diberi etiket.
  • Buka gaun, topi, asker, kaca mata kemudian rendam dengan deterjen. Bila disposible masukkkan dalam kantong plasrtik kemudian diikat dan diberi etiket, kirim ke incinerator / bakaran.
  • Catat semua prosedur

Awasi keadaan umum pasien, monitor tensi, nadi, RR tiap setengah jam dan awasi adanya tanda-tanda ekstravasasi.

E. Prinsip Kerja Kemoterapi

Prinsip kerja Kemoterapi adalah  membunuh sel-sel yang cepat berkembang biak (terutama sel-sel kanker)  dengan  merusak atau mengganggu proses pembelahan sel.

F. Efek Samping Kemoterapi dan Penanganannya

Efek samping kemoterapi yang sering terjadi dan penanganannya:

Rambut rontok / menipis

    Bersifat sementara. Rambut akan tumbuh kembali jika obat dihentikan.

    Mual / muntah

      Tetap berikan makan dalam porsi kecil tapi sering. Hindari makanan yang terlalu manis, berminyak/ berlemak dan permen. Biasanya diberikan obat anti muntah oleh dokter.

      Sembelit

        Berikan makanan tinggi serat, misal sayuran dan buah-buahan. Minum banyak. Biasanya jika lebih dari 3 hari tidak berak, akan diberikan obat oleh dokter.

        Diare

          Hindari makanan yang pedas / asam. Beri minum banyak dan makanan yang lunak. Jika mencret lebih dari 1 hari akan diberikan obat oleh dokter.

          Stomatitis / sariawan / gomen

          Pelihara kebersihan mulut. Gunakan sikat gigi yang lembut. Biasanya akan diberikan obat oles oleh dokter.

          Penurunan daya tahan tubuh

          Hindari sumber-sumber infeksi dengan menjauhkan anak dari orang yang sedang flu, sakit tenggorokan, cacar air, sakit kulit dan lain-lain. Pelihara kebersihan badan. Cuci tangan sebelum makan dan sebelum atau setelah menyentuh anak.

          Perubahan kulit : kering, gatal

          Jaga kebersihan kulit. Gunakan pelembab yang tidak mengandung alkohol. Pakai baju yang longgar.

          G. Syarat pemberian obat Kemoterapi

          Sebelum pengobatan dimulai beberapa kondisi pasien harus dipenuhi yaitu :

          1. Keadaan umum harus cukup baik
          2. Penderita mengerti pengobatan dan mengetahui efek samping yang akan terjadi
          3. Faal ginjal ( kadar ureum < 40 mg % dan kadar kreatinin < 1,5 mg % ) dan faal hati baik
          4. Diagnosis hispatologik diketahui
          5. Jenis kanker diketahui sensitif terhadap kemoterapi
          6. Hemoglobin > 10 gr %
          7. Leucosit > 5000 / ml
          8. Trombosit > 100.000 / ml

          TEORI PROSES MENUA

          Filed under: 1 — ROBBY BEE @ 4:31 PM

          I. BIOLOGICAL

          • Teori sel

          → sel reproduce, sel yang tidak reproduce dan materi intra seluler

          • Teori radikal bebas

          → adanya radikal bebas yang bersifat tidak stabil,  aktif dan agresif terhadap sel tubuh yang dapat menimbulkan kerusakan serta menghasilkan radikal bebas yang lebih banyak.

          • Programed aging theory

          → kehidupan organisme diprogram melalui gennya, yang mengontrol panjng hidup manusia (Hershey, 1974)

          • Disengagement theory

          → teori melepaskan, penarikan diri individu usila dari msyarakat atau sebaliknya merupakan suatu keadaan yang tak mungkin di elakkan dan menimbulkan penurunan interaksi antara keduanya. Inisiatif penarikan diri dapat muncul dari individu dan atau masyarakat (Cumming & Henry, 61)

          • Kontinuitas theory

          → kepribadian manusia dewasa memiliki kebiasaan, karakter, selera daan pilihan, perkumpulan dan tujuan serta komitmen yang unik.

          Usila akan tetap pada kepribadiannya & penyesuaian interpersonal yang sama → konflik dengan yang baru → tertindas

          II. PSIKOSOSIAL

          • Teori aktivitas

          → kepuasan hidup usila akan timbul apabila yang bersangkutan mempertahankan aktivitas sosial pada tingkat optimum

          • Teori pertukaran sosial

          → interaksi sosial antara individu dan kelompok kn kontiniu bila dirasakan menguntungkan, dimana keuntungan = imbalan tanpa biaya (Dowd, 1975)

          III. LINGKUNGAN

          • Wear and tear theory

          → sinar matahari yang berlebihan akan menimbulkan kulit kering, tipis, berkerut → cepat tua

          • Disease syndrom

          → perubahan yang terjadi akibat  stres lingkungan dan biologik serta adaptasi terhadap efek agent stressor, berupa; polusi udara, kimia, peristiwa psikologik dan sosiologic (Pelman, 54)

          • Ecological model

          → perilaku adalah produk interaksi seseorang dengan lingkungan, maka interaksi tersebut harus di pahami (Lawton & Nahemow, 73)

          STAGES OF DYING

          • Tahap-tahap menjelang sakaratul maut
            • Denial
            • Anger
            • Bergaining
            • Depresion
            • Acceptance
          • The process of dying
            • Tingkat

          • Respon

          -    Rasa takut berkurang

          -    Lebih dapat mengontrol diri

          -    Perhatian terhadap kehidupan setelah mati

          -    Ketakutan pada kesengsaraan, pengunaan alat untuk memperpanjang kehidupan (Kohn & Menon, 1988)

          • Kebutuhan YANKES

          -    Menstabilkan dan mendukung fungsi vital

          -    Mengenali penyimpangan fungsi dan melakukan tindakan untuk penyesuaian

          -    Mengurangi gejala distres dan kesedihan

          -    Mendukung interaksi dengan keluarga

          -    Mendukung klien dan keluarga dalam koping terhadap kenyataan kematian

          • Asuhan keperawatan

          -    Integritas biologik : cukup energi dan bebas dari nyeri

          -    Kenyamanan dan keamanan : kesempatan mengungkapkan rasa takut, percaya terhadap perawat, merasa diberitahu kebenaran dan aman

          -    Belonging : kesempatan bicara, didengarkan & dimengerti, dicintai & mencintai, bersama dengan orang yang memperhatikan

          -    Self esteem : dihargai optimalisasi rasa independen, merasa seperti orang normal, diperhatikan identitas dirinya

          -    Akrualisasi diri : kematian sebagai pengalaman perkembangan, tukar pengalaman dengan orang lain, menerima kematian dan hidup

          • Issues in gerontological
            • Income security
            • Protection of assets
            • Health promotion
            • Care during periods of illnes
            • Peachfull death 

          6 Oktober 2009

          KOMUNIKASI TERAPEUTIK

          Filed under: 1 — ROBBY BEE @ 7:31 AM

          PENDAHULUAN

          Komunikasi mempunyai banyak sekali makna dan sangat bergantung pada konteks pada saat komunikasi dilakukan. Bagi beberapa orang, komunikasi merupakan pertukaran informasi diantara dua orang atau lebih, atau dengan kata lain; pertukaran ide atau pemikiran. Metodenya antara lain: berbicara dan mendengarkan atau menulis dan membaca, melukis, menari, bercerita dan lain sebagainya. Sehingga dapat dikatakan bahwa segala bentuk upaya penyampaian pikiran kepada orang lain, tidak hanya secara lisan (verbal) atau tulisan tetapi juga gerakan tubuh atau gesture (non-verbal), adalah komunikasi.

          Komunikasi merupakan suatu proses karena melalui komunikasi seseorang menyampaikan dan mendapatkan respon. Komunikasi dalam hal ini mempunyai dua tujuan, yaitu: mempengaruhi orang lain dan untuk mendapatkan informasi. Akan tetapi, komunikasi dapat digambarkan sebagai komunikasi yang memiliki kegunaan atau berguna (berbagi informasi, pemikiran, perasaan) dan komunikasi yang tidak memiliki kegunaan atau tidak berguna (menghambat/blok penyampaian informasi atau perasaan). Keterampilan berkomunikasi merupakan keterampilan yang dimiliki oleh seseorang untuk membangun suatu hubungan, baik itu hubungan yang kompleks maupun hubungan yang sederhana melalui sapaan atau hanya sekedar senyuman. Pesan verbal dan non verbal yang dimiliki oleh seseorang menggambarkan secara utuh dirinya, perasaannya dan apa yang ia sukai dan tidak sukai. Melalui komunikasi seorang individu dapat bertahan hidup, membangun hubungan dan merasakan kebahagiaan.

          Effendy O.U (2002) dalam Suryani (2005) menyatakan lima komponen dalam komunikasi yaitu; komunikator, komunikan, pesan, media dan efek. Komunikator (pengirim pesan) menyampaikan pesan baik secara langsung atau melalui media kepada komunikan (penerima pesan) sehingga timbul efek atau akibat terhadap pesan yang telah diterima. Selain itu, komunikan juga dapat memberikan umpan balik kepada komunikator sehingga terciptalah suatu komunikasi yang lebih lanjut.

          Keterampilan berkomunikasi merupakan critical skill yang harus dimiliki oleh perawat, karena komunikasi merupakan proses yang dinamis yang digunakan untuk mengumpulkan data pengkajian, memberikan pendidikan atau informasi kesehatan-mempengaruhi klien untuk mengaplikasikannya dalam hidup, menunjukan caring, memberikan rasa nyaman, menumbuhkan rasa percaya diri dan menghargai nilai-nilai klien. Sehingga dapat juga disimpulkan bahwa dalam keperawatan, komunikasi merupakan bagian integral dari asuhan keperawatan. Seorang perawat yang berkomunikasi secara efektif akan lebih mampu dalam mengumpulkan data, melakukan tindakan keperawatan (intervensi), mengevaluasi pelaksanaan dari intervensi yang telah dilakukan, melakukan perubahan untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah terjadinya masalah- masalah legal yang berkaitan dengan proses keperawatan.

          Proses komunikasi dibangun berdasarkan hubungan saling percaya dengan klien dan keluarganya. Komunikasi efektif merupakan hal yang esensial dalam menciptakan hubungan antara perawat dan klien. Addalati (1983), Bucaille (1979) dan Amsyari (1995) menegaskan bahwa seorang perawat yang beragama, tidak dapat bersikap masa bodoh, tidak peduli terhadap pasien, seseorang (perawat) yang tidak care dengan orang lain (pasien) adalah berdosa. Seorang perawat yang tidak menjalankan profesinya secara profesional akan merugikan orang lain (pasien), unit kerjanya dan juga dirinya sendiri. Komunikasi seorang perawat dengan pasien pada umumnya menggunakan komunikasi yang berjenjang yakni komunikasi intrapersonal, interpersonal dan komunal/kelompok. Demikian pula ditegaskan dalam Poter dan Perry (1993) bahwa komunikasi dalam prosesnya terjadi dalam tiga tahapan yakni komunikasi intrapersonal, interpersonal dan publik.

          KOMUNIKASI TERAPEUTIK

          A. Pengertian

          Komunikasi dalam keperawatan disebut dengan komunikasi terapeutik, dalam hal ini komunikasi yang dilakukan oleh seorang perawat pada saat melakukan intervensi keperawatan harus mampu memberikan khasiat therapi bagi proses penyembuhan pasien. Oleh karenanya seorang perawat harus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan aplikatif komunikasi terapeutik agar kebutuhan dan kepuasan pasien dapat dipenuhi. Northouse (1998) mendefinisikan komunikasi terapeutik sebagai kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu klien beradaptasi terhadap stres, mengatasi gangguan psikologis dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain. Stuart G.W (1998) menyatakan bahwa komunikasi terapeutik merupakan hubungan interpersonal antara perawat dan klien, dalam hubungan ini perawat dan klien memperoleh pengalaman belajar bersama dalam rangka memperbaiki pengalaman emosional klien. Sedangkan S.Sundeen (1990) menyatakan bahwa hubungan terapeutik adalah hubungan kerjasama yang ditandai tukar menukar perilaku, perasaan, pikiran dan pengalaman dalam membina hubungan intim yang terapeutik.

          Dari beberapa pengertian diatas dapat dipahami bahwa komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang memiliki makna terapeutik bagi klien dan dilakukan oleh perawat (helper) untuk membantu klien mencapai kembali kondisi yang adaptif dan positif.

          B. Tujuan

          Komunikasi terapeutik bertujuan untuk mengembangkan pribadi klien kearah yang lebih positif atau adaptif dan diarahkan pada pertumbuhan klien yang meliputi:

          1. Realisasi diri, penerimaan diri dan peningkatan penghormatan diri.

          Melalui komunikasi terapeutik diharapkan terjadi perubahan dalam diri klien. Klien yang menderita penyakit kronis ataupun terminal umumnya mengalami perubahan dalam dirinya, ia tidak mampu menerima keberadaan dirinya, mengalami gangguan gambaran diri, penurunan harga diri, merasa tidak berarti dan pada akhirnya merasa putus asa dan depresi.

          2. Kemampuan membina hubungan interpersonal yang tidak superfisial dan saling bergantung dengan orang lain.

          Melalui komunikasi terapeutik, klien belajar bagaimana menerima dan diterima orang lain. Dengan komunikasi yang terbuka, jujur dan menerima klien apa adanya, perawat akan dapat meningkatkan kemampuan klien dalam membina hubungan saling percaya (Hibdon, 2000). Rogers (1974) dalam Abraham dan Shanley (1997) mengemukakan bahwa hubungan mendalam yang digunakan dalam proses interaksi antara perawat dan klien merupakan area untuk mengekspresikan kebutuhan, memecahkan masalah dan meningkatkan kemampuan koping.

          3. Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan yang realistis.

          Terkadang klien menetapkan ideal diri atau tujuan terlalu tinggi tanpa mengukur kemampuannya. Taylor, Lilis dan La Mone (1997) mengemukakan bahwa individu yang merasa kenyataan dirinya mendekati ideal diri mempunyai harga diri yang tinggi sedangkan individu yang merasa kenyataan hidupnya jauh dari ideal dirinya akan merasa rendah diri.

          4. Rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri.

          Klien yang mengalami gangguan identitas personal biasanya tidak mempunyai rasa percaya diri dan mengalami harga diri rendah. Melalui komunikasi terapeutik diharapkan perawat dapat membantu klien meningkatkan integritas dirinya dan identitas diri yang jelas.

          C. Prinsip Dasar Komunikasi Terapeutik

          Komunikasi terapeutik meningkatkan pemahaman dan membantu terbentuknya hubungan yang konstruktif diantara perawat-klien. Tidak seperti komunikasi sosial, komunikasi terapeutik mempunyai tujuan untuk membantu klien mencapai suatu tujuan dalam asuhan keperawatan. Oleh karenanya sangat penting bagi perawat untuk memahami prinsip dasar komunikasi terapeutik berikut ini;

          1. Hubungan perawat dan klien adalah hubungan terapeutik yang saling menguntungkan, didasarkan pada prinsip ‘humanity of nurses and clients’. Hubungan ini tidak hanya sekedar hubungan seorang penolong (helper/perawat) dengan kliennya, tetapi hubungan antara manusia yang bermartabat (Dult-Battey,2004).

          2. Perawat harus menghargai keunikan klien, menghargai perbedaan karakter, memahami perasaan dan perilaku klien dengan melihat perbedaan latar belakang keluarga, budaya, dan keunikan setiap individu.

          3. Semua komunikasi yang dilakukan harus dapat menjaga harga diri pemberi maupun penerima pesan, dalam hal ini perawat harus mampu menjaga harga dirinya dan harga diri klien.

          4. Komunikasi yang menciptakan tumbuhnya hubungan saling percaya (trust) harus dicapai terlebih dahulu sebelum menggali permasalahan dan memberikan alternatif pemecahan masalah (Stuart,1998). Hubungan saling percaya antara perawat dan klien adalah kunci dari komunikasi terapeutik.

          D. Hubungan Perawat dan Klien/Helping Relationship

          Salah satu karakteristik dasar dari komunikasi yaitu ketika seseorang melakukan komunikasi terhadap orang lain maka akan tercipta suatu hubungan diantara keduanya, selain itu komunikasi bersifat resiprokal dan berkelanjutan. Hal inilah yang pada akhirnya membentuk suatu hubungan ‘helping relationship’. Helping relationship adalah hubungan yang terjadi diantara dua (atau lebih) individu maupun kelompok yang saling memberikan dan menerima bantuan atau dukungan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya sepanjang kehidupan. Pada konteks keperawatan hubungan yang dimaksud adalah hubungan antara perawat dan klien. Ketika hubungan antara perawat dan klien terjadi, perawat sebagai penolong (helper) membantu klien sebagai orang yang membutuhkan pertolongan, untuk mencapai tujuan yaitu terpenuhinya kebutuhan dasar manusia klien.

          Menurut Roger dalam Stuart G.W (1998), ada beberapa karakteristik seorang helper (perawat) yang dapat memfasilitasi tumbuhnya hubungan yang terapeutik, yaitu:

          1. Kejujuran

          Kejujuran sangat penting, karena tanpa adanya kejujuran mustahil bisa terbina hubungan saling percaya. Seseorang akan menaruh rasa percaya pada lawan bicara yang terbuka dan mempunyai respons yang tidak dibuat-buat, sebaliknya ia akan berhati-hati pada lawan bicara yang terlalu halus sehingga sering menyembunyikan isi hatinya yang sebenarnya dengan kata-kata atau sikapnya yang tidak jujur (Rahmat, J.,1996 dalam Suryani,2005).). Sangat penting bagi perawat untuk menjaga kejujuran saat berkomunikasi dengan klien, karena apabila hal tersebut tidak dilakukan maka klien akan menarik diri, merasa dibohongi, membenci perawat atau bisa juga berpura-pura patuh terhadap perawat.

          2. Tidak membingungkan dan cukup ekspresif

          Dalam berkomunikasi dengan klien, perawat sebaiknya menggunakan kata-kata yang mudah dipahami oleh klien dan tidak menggunakan kalimat yang berbelit-belit. Komunikasi nonverbal perawat harus cukup ekspresif dan sesuai dengan verbalnya karena ketidaksesuaian akan menimbulkan kebingungan bagi klien.

          3. Bersikap positif

          Bersikap positif terhadap apa saja yang dikatakan dan disampaikan lewat komunikasi nonverbal sangat penting baik dalam membina hubungan saling percaya maupun dalam membuat rencana tindakan bersama klien. Bersikap positif ditunjukkan dengan bersikap hangat, penuh perhatian dan penghargaan terhadap klien. Untuk mencapai kehangatan dan ketulusan dalam hubungan yang terapeutik tidak memerlukan kedekatan yang kuat atau ikatan tertentu diantara perawat dan klien akan tetapi penciptaan suasana yang dapat membuat klien merasa aman dan diterima dalam mengungkapkan perasaan dan pikirannya (Burnard,P dan Morrison P,1991 dalam Suryani,2005).

          4. Empati bukan simpati

          Sikap empati sangat diperlukan dalam asuhan keperawatan, karena dengan sikap ini perawat akan mampu merasakan dan memikirkan permasalahan klien seperti yang dirasakan dan dipikirkan klien (Brammer,1993 dalam Suryani,2005). Dengan bersikap empati perawat dapat memberikan alternative pemecahan masalah karena perawat tidak hanya merasakan permasalahan klien tetapi juga tidak berlarut-larut dalam perasaaan tersebut dan turut berupaya mencari penyelesaian masalah secara objektif.

          5. Mampu melihat permasalahan dari kacamata klien

          Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus berorientasi pada klien (Taylor, Lilis dan Le Mone, 1993), oleh karenaya perawat harus mampu untuk melihat permasalahan yang sedang dihadapi klien dari sudut pandang klien. Untuk mampu melakukan hal ini perawat harus memahami dan memiliki kemampuan mendengarkan dengan aktif dan penuh perhatian. Mendengarkan dengan penuh perhatian berarti mengabsorpsi isi dari komunikasi (kata-kata dan perasaan) tanpa melakukan seleksi. Pendengar (perawat) tidak sekedar mendengarkan dan menyampaikan respon yang di inginkan oleh pembicara (klien), tetapi berfokus pada kebutuhan pembicara. Mendengarkan dengan penuh perhatian menunjukkan sikap caring sehingga memotivasi klien untuk berbicara atau menyampaikan perasaannya.

          6. Menerima klien apa adanya

          Seorang helper yang efektif memiliki kemampuan untuk menerima klien apa adanya. Jika seseorang merasa diterima maka dia akan merasa aman dalam menjalin hubungan interpersonal (Sullivan, 1971 dalam Antai Ontong, 1995 dalam Suryani, 2005). Nilai yang diyakini atau diterapkan oleh perawat terhadap dirinya tidak dapat diterapkan pada klien, apabila hal ini terjadi maka perawat tidak menunjukkan sikap menerima klien apa adanya.

          7. Sensitif terhadap perasaan klien

          Seorang perawat harus mampu mengenali perasaan klien untuk dapat menciptakan hubungan terapeutik yang baik dan efektif dengan klien. Dengan bersikap sensitive terhadap perasaan klien perawat dapat terhindar dari berkata atau melakukan hal-hal yang menyinggung privasi ataupun perasaan klien.

          8. Tidak mudah terpengaruh oleh masa lalu klien ataupun diri perawat sendiri

          Perawat harus mampu memandang dan menghargai klien sebagai individu yang ada pada saat ini, bukan atas masa lalunya, demikian pula terhadap dirinya sendiri.

          E. Tahapan Komunikasi Terapeutik

          Telah disebutkan sebelumnya bahwa komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang terstruktur dan memiliki tahapan-tahapan. Stuart G.W, 1998 menjelaskan bahwa dalam prosesnya komunikasi terapeutik terbagi menjadi empat tahapan yaitu tahap persiapan atau tahap pra-interaksi, tahap perkenalan atau orientasi, tahap kerja dan tahap terminasi.

          1. Tahap Persiapan/Pra-interaksi

          Dalam tahapan ini perawat menggali perasaan dan menilik dirinya dengan cara mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. Pada tahap ini juga perawat mencari informasi tentang klien sebagai lawan bicaranya. Setelah hal ini dilakukan perawat merancang strategi untuk pertemuan pertama dengan klien. Tahapan ini dilakukan oleh perawat dengan tujuan mengurangi rasa cemas atau kecemasan yang mungkin dirasakan oleh perawat sebelum melakukan komunikasi terapeutik dengan klien.

          Kecemasan yang dialami seseorang dapat sangat mempengaruhi interaksinya dengan orang lain (Ellis, Gates dan Kenworthy, 2000 dalam Suryani, 2005). Hal ini disebabkan oleh adanya kesalahan dalam menginterpretasikan apa yang diucapkan oleh lawan bicara. Pada saat perawat merasa cemas, dia tidak akan mampu mendengarkan apa yang dikatakan oleh klien dengan baik (Brammer, 1993 dalam Suryani, 2005) sehingga tidak mampu melakukan active listening (mendengarkan dengan aktif dan penuh perhatian).

          Tugas perawat dalam tahapan ini adalah:

          a. Mengeksplorasi perasaan, mendefinisikan harapan dan mengidentifikasi kecemasan.

          b. Menganalisis kekuatan dan kelemahan diri.

          c. Mengumpulkan data tentang klien.

          d. Merencanakan pertemuan pertama dengan klien.

          2. Tahap Perkenalan/Orientasi

          Tahap perkenalan dilaksanakan setiap kali pertemuan dengan klien dilakukan. Tujuan dalam tahap ini adalah memvalidasi keakuratan data dan rencana yang telah dibuat sesuai dengan keadaan klien saat ini, serta mengevaluasi hasil tindakan yang telah lalu (Stuart.G.W, 1998).

          Tugas perawat dalam tahapan ini adalah:

          a. Membina rasa saling percaya, menunjukkan penerimaan dan komunikasi terbuka.

          b. Merumuskan kontrak (waktu, tempat pertemuan, dan topik pembicaraan) bersama-sama dengan klien dan menjelaskan atau mengklarifikasi kembali kontrak yang telah disepakati bersama.

          c. Menggali pikiran dan perasaan serta mengidentifikasi masalah klien yang umumnya dilakukan dengan menggunakan teknik komunikasi pertanyaan terbuka.

          d. Merumuskan tujuan interaksi dengan klien.

          Sangat penting bagi perawat untuk melaksanakan tahapan ini dengan baik karena tahapan ini merupakan dasar bagi hubungan terapeutik antara perawat dan klien.

          3. Tahap Kerja

          Tahap kerja merupakan inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik (Stuart,G.W,1998). Tahap kerja merupakan tahap yang terpanjang dalam komunikasi terapeutik karena didalamnya perawat dituntut untuk membantu dan mendukung klien untuk menyampaikan perasaan dan pikirannya dan kemudian menganalisa respons ataupun pesan komunikasi verbal dan non verbal yang disampaikan oleh klien. Dalam tahap ini pula perawat mendengarkan secara aktif dan dengan penuh perhatian sehingga mampu membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang sedang dihadapi oleh klien, mencari penyelesaian masalah dan mengevaluasinya.

          Dibagian akhir tahap ini, perawat diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya dengan klien. Teknik menyimpulkan ini merupakan usaha untuk memadukan dan menegaskan hal-hal penting dalam percakapan, dan membantu perawat dan klien memiliki pikiran dan ide yang sama (Murray,B. & Judith,P,1997 dalam Suryani,2005). Dengan dilakukannya penarikan kesimpulan oleh perawat maka klien dapat merasakan bahwa keseluruhan pesan atau perasaan yang telah disampaikannya diterima dengan baik dan benar-benar dipahami oleh perawat.

          4. Tahap Terminasi

          Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat dan klien. Tahap terminasi dibagi dua yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir (Stuart,G.W,1998). Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan perawat dan klien, setelah hal ini dilakukan perawat dan klien masih akan bertemu kembali pada waktu yang berbeda sesuai dengan kontrak waktu yang telah disepakati bersama. Sedangkan terminasi akhir dilakukan oleh perawat setelah menyelesaikan seluruh proses keperawatan.

          Tugas perawat dalam tahap ini adalah:

          Mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi yang telah dilaksanakan (evaluasi objektif). Brammer dan McDonald (1996) menyatakan bahwa meminta klien untuk menyimpulkan tentang apa yang telah didiskusikan merupakan sesuatu yang sangat berguna pada tahap ini.

          Melakukan evaluasi subjektif dengan cara menanyakan perasaan klien setelah berinteraksi dengan perawat.

          Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan. Tindak lanjut yang disepakati harus relevan dengan interaksi yang baru saja dilakukan atau dengan interaksi yang akan dilakukan selanjutnya. Tindak lanjut dievaluasi dalam tahap orientasi pada pertemuan berikutnya.

          F. Sikap Dalam Melakukan Komunikasi Terapeutik

          Egan (1998) dalam Kozier,et.al (2004), telah menggambarkan lima cara yang spesifik untuk menunjukkan kehadiran secara fisik ketika melaksanakan komunikasi terapeutik, yang ia definisikan sebagai sikap atas kehadiran atau keberadaan terhadap orang lain atau ketika sedang berada dengan orang lain. Berikut adalah tindakan atau sikap yang dilakukan ketika menunjukkan kehadiran secara fisik :

          1. Berhadapan dengan lawan bicara

          Dengan posisi ini perawat menyatakan kesiapannya (”saya siap untuk anda”).

          2. Sikap tubuh terbuka; kaki dan tangan terbuka (tidak bersilangan)

          Sikap tubuh yang terbuka menunjukkan bahwa perawat bersedia untuk mendukung terciptanya komunikasi.

          3. Menunduk/memposisikan tubuh kearah/lebih dekat dengan lawan bicara

          Hal ini menunjukkan bahwa perawat bersiap untuk merespon dalam komunikasi (berbicara-mendengar).

          4. Pertahankan kontak mata, sejajar, dan natural

          Dengan posisi mata sejajar perawat menunjukkan kesediaannya untuk mempertahankan komunikasi.

          5. Bersikap tenang

          Akan lebih terlihat bila tidak terburu-buru saat berbicara dan menggunakan gerakan/bahasa tubuh yang natural.

          PENUTUP

          Komunikasi terapeutik merupakan tanggung jawab moral seorang perawat serta salah satu upaya yang dilakukan oleh perawat untuk mendukung proses keperawatan yang diberikan kepada klien. Untuk dapat melakukannya dengan baik dan efektif diperlukan latihan dan pengasahan keterampilan berkomunikasi sehingga efek terapeutik yang menjadi tujuan dalam komunikasi terapeutik dapat tercapai.

          REFERENSI

          Hilton. A.P.(2004).Fundamental Nursing Skills. USA: Whurr Publisher Ltd

          Kozier,et.al.(2004). Fundamentals of nursing ; concepts, process and practice Seventh edition. United States: Pearson Prentice Hall

          Potter, P.A & Perry, A.G.(1993). Fundamental of Nursing Concepts, Process and Practice. Third edition. St.Louis: Mosby Year Book

          Sears.M.(2004). Using Therapeutic Communication to Connect with Patients. http://www.NonviolentCommunication.com

          Stuart, G.W & Sundeen S.J.(1995). Pocket guide to Psychiatric Nursing. Third edition. St.Louis: Mosby Year Book

          Stuart, G.W & Sundeen S.J.(1995). Principles and Practise of Psychiatric Nursing. St. Louis: Mosby Year Book

          Suryani.(2005). Komunikasi Terapeutik; Teori dan Praktik. Jakarta: EGC

          Taylor, Lilis & LeMone.(1993). Fundamental of Nursing; the art and science of nursing care. Third edition. Philadelphia: Lippincot-Raven Publication

          Luka Bakar (Burn) bag.II

          Filed under: K D M — ROBBY BEE @ 7:26 AM

          A. Patofisiologi

          Luka bakar disebabkan oleh pengalihan energi dari suatu sumber panas kepada tubuh. Panas dapat dipindahkan lewat hantaran atau radiasi elektromagnetik. Luka bakar dapat dikelompokkan menjadi luka bakar termal, radiasi atau kimia. Destruksi jaringan terjadi akibat koagulasi, denaturasi protein atau ionisasi isi sel. Kulit dan mukosa saluran napas atas merupakan lokasi destruksi jaringan. Jaringan yang dalam termasuk organ visera dapat mengalami kerusakan karena luka nbakar elektrik atau kontak yang lama dengan agens penyebab (burning agent). Nekrosis dan kegagalan organ dapat terjadi.

          Dalamnya luka bakar tergantung pada suhu agen penyebab luka bakar dan lamanya kontak agen tersebut. Sebagai contoh pada kasus luka bakar tersiram air panas pada orang dewasa. Kontak selama 1 detik dengan air yang panas dari shower dengan suhu 68,9 0 C dapat menimbulkan luka bakar yang merusak epidermis serta dermis sehingga terjadi cedera derajat III ( Full Thickness Injury ). Pajanan selama 15 menit dengan air panas yang suhunya sebesar 56,10 C mengakibatkan cedera Full thickness yang serupa. Suhu yang kurang dari 44 0 C dapat ditoleransi dala,m periode waktu yang lama tanpa menyebabkan luka bakar.

          Trauma termal dapat meningkatkan permeabilitas pembuluh darah yang mengakibatkan air, natrium, klorida dan protein keluar dari dalam intra vaskuler kedaerah yang mengalami trauma dan menyebabkan edema yang disertai penguapan yang cukup tinggi pada daerah yang luka dan dapar berlanjut pada keadaan hipovolemia dan hemokonsentrasi bila kondisi tersebut tidak cepat ditanggulangi dengan pemberian cairan dan elektrolit.

          Luka bakar selain mengakibatkan kerusakan fisik kulit, mengakibatkan keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh manusia yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi seluruh sistem tubuh penderita tersebut, juga keadaan hemostatis tubuh, perubahan reaksi fisiologis sebagai respon kompensasi terhadap luka bakar berupa gejala-gajalanya adalah; haus, pernapasan cepat, frekwensi jantung meningkat, mual dan muntah, bising usus meningkta, edema, perubahan berat badan. Peningkatan kotekolamin dan peningktana sekresu aldosteron, pemingktan pelepasan glikogen, peningkatan kadar gula darah, pengisian kapiler darah, tidak kuat terhadap suhu dingin, penurunan haluaran urin dan peningkatan berat jenis urin.

          Pasien dengan luka bakar luas atau mayor, kadang tubuhnya tidak mampu lagi untuk mengkompensasikan terhadap perubahan yang terjadi sehingga dapat menimbulkan beragam komplikasi. Shock luka bakar adalah merupakan komplikasi yang sering kali dialami pasien dengan luka bakar luas karena hipoivolemik yang tidak segera diatasi.

          B. Dampak luka bakar terhadap sistem tubuh.

          Luka bakar dapat mengakibatkan terjadi perubahan secara fisiologis yang akut, berupa ;

          1. Gangguan cairan dan elektrolit

          Gangguan cairan dan elektrolit terjadi akibat perubahan dari mekanisme dimana terjadi perubahan pemindahan cairan dan elektrolit dari intra vasculer ke ekstra vasculer, akibat penguapan air yang berlebihan melalui permukaan kulit yang rusak. Kondisi tersebut diperberat dengan terjadinya juga perpindahan cairan dari cairan ekstraseluler pada daerah yang sehat/tidak terbakar ke tempat daerah yang trauma. Sehingga gangguan metabolisme sel terjadi hampir seluruh tubuh, maka kondisi ini kadang dapat lebih memperberat kondisi shock yang terjadi.

          Perbedaan shock luka bakar dengan shock akibat pendarahan yang menyebabkan hipovolemik adalah pada shock luka bakar selain terajdi shock hipovolemia juga terjadi kekurangan cairan ekstraseluler dalam jaringan yang sehat terjadi gangguan metabolisme sel yang akan memperberat keadaan shock. Selain hal tersebut diatas terjadi peningkatan permeabilitas kapiler yang mengakibatkan semakin menutrunnya volume cairan. Dalam intra vena kebocoran pada pembuluh darah ini, mengakibatkan protein dalam plasma lolos melalui dinding kapiler sehingga dari jumlah protein yang lolos ini akan keluar dari tubuh melalui luka-luka, sedangkan sisinya bertahan diruanga ekstraseluler kurang lebih tiga minggu sebelum masuk kembali ke pembuluh darah. Perbaikan permeabilitas kapiler terjadi berangsur-angsur setelah 24-36 jam dan cairan edema mulai diserap kembali. Dalam klinik dikenal sebagai fase diuresis dan secara tuntas perbaikan permeabilitas normal kembali 5-6 hari.

          2. Gangguan sirkulasi dan hematologi.

          Adanya penurunan cairan dan elektrolit dalam intravaskuler mengakibatkan terjadinya penurunan curah jantung berupa stroke volume berkurang dan resisten perifer meninggi, tachikardia dan hipotensi. Trauma luka bakar mengakibatkan hemolisis eritrosit sehingga terjadi penurunan eritrosit sebesar 10 % karena adanya perubahan fisik / morfologi dalam darah yang terjadi 1-2 jam setelah luka bakar yang diakibatkan oleh pengaruh panas tersebut. Dapat pula terjadi hemolisis yang lambat setelah 2-7 hari terbakar yang disebabkan oleh fragilitas eritrosit yang bertambah.

          Pada kondisi tersebut diatas perlu diperhatikan lebih utama adalah jumlah eritrosit yang aktif dalam sirkulasi. Selain terjadinya hemolisis dan perubahan morfologi eritrosit,, berkurangnya eritrosit akibat tertahan dalam pembuluh darah dan perdarahan-perdarahan dari jaringan yang granulasi. Terapi transfusi darah belum diperlukan sampai 72 jamsetelah terbakar, pada fase awal terjadinya hemokonsentrasi. bila terlalu dini pemberian darah akan menambah kepekatan darah sedangkan plasma masih terus bocor. Jika kondisi hemokonsentarsi sudah dikoreksi dengan pemberian cairan dan volume intra vaskuler sudah diperbaiki juga, transfusi perlu dipertimbangkan dengan pedoman pada hematokrit.

          3. Gangguan hormonal dan metabolisme.

          Kerusakan kulit akibat luka bakar menimbulkan rasa tidak nyaman baik fisik maupun psikologis dan stress yang berkepanjangan. Kondisi tersbut akan meningkatkan stimulus dari kerja hormon-hormon dan berakibat peningkatan metabolisme tubuh. Di ruang perawatn pada umumnya klien luka bakar yang mampu melampaui fase akut akan terjadi penurunan berat badan lebih cepat bila tidak mendapatkan penanganan yang adekuat. Hal ini terjadi akibat adanya peningkatan metabolisme tubuh untuk mengembalikan fungsi-fungsi tubuh yang terganggu akibat kerusakan jaringan, berupa perbaikan sel –sel yang rusak. Bila sumber nutrisi / energi tidak terpenuhi dari intake makanan dari luar maka tubuh secara alami akan melakukan pembongkaran sumber-sumber energi cadangan yang terdapat dalam tubuh pada jarinag tubuh yang sehat, ini tidak terlepas dari kerja hormon-hormon. Begitu juga pada saat terjadinya kekurangan cairan tubuh.

          Pada luka bakar terjadi penghamburan sumber energi dan penurunan berat badan karena adanya katabolisme yang hebat akibat kekurangan intake nutrisi. Lamanya katabolisme ini tergantung dari beberapa faktor dan biasanya metabolisme baru akan normal kembali setelah luka bakar yang dalam sudah ditutupi dengan tandur kulit. Hipermetabolisme pada luka bakar akan meningkat sebanding dengan luasnya luka bakar sampai dengan luas luka bakar 40-50 % dan selanjutnya pada luka bakar yang lebih luas tidak sebanding.

          Kerusakan kulit ,mengakibatkan ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan suhu tubuh akibat ketidakmampuan kulit mempertahankan pengauapn air sehingga terjadi pendinginan permukaan tubuh. Hal ini akan merangsang untuk menghaslikan panas agar suhu dalam tubuh dapat dipertahankan.

          3. Gangguan imunologi.

          Pada periode awal segera setelah trauma kepekaan terhadap infeksi meningkat, hal ini disebabkan netropil yang seharusnya memfagosit kuman-kuman, terperangkap dalam kapiler (zona stasis), sehingga secara bertahap terjadin penurunan daya tahan tubuh.

          Pada luka bakar II yang tidak mengalami infeksi akan terjadi rekanalisasi pembuluh darah, hal tersebut terjadi 48 jam pasca trauma da proses rekanalisasi akan lengkap pada akhir minggu pertama sehingga netrofil dapat bergerak kembali. Pada luka bakar II jaringan dibawah eschar / subschar membentuk jaringan granulasi yang kaya dengan fibroblas dan kapiler-kapiler baru. Bila tidak terjadi infeksi proses ini mulai pada akhir minggu kedua dan biasanya sudah lengkap pada minggu ketiga. Dalam keadaan normal kemampuan netrofil untuk menghancurkan bakteri naik turun secara siklus sedangkan pada luka bakar flaktuasi tersebut amat berlebihan sehingga pada saat terjadinya penurunan kemampuan netrofil dapat timbul sepsis luka bakar.

          C. Klasifikasi

          Tingkat keparahan luka bakar diklasifikasikan berdasarkan pada resiko mortalitas dan resiko kecacatan fungsi. Faktor-faktor yang mempengaruhi keparahan cedera tersebut :

          1. Kedalaman luka bakar.

          Pengklasifikasian ini menurut jarinag yang rusak; luka bakar superfisial thickness, luka bakar deep parsial thickness dan luka bakar full thickness.

          Istilah deskriptif yang sesuai adalah luka bakar derajat satu, dua, dan tiga. Respon lokal terhadap luka bakar tergantung pada dalamnya kerusakan kulit, berikut ini adalah tabel karakteristik luka bakar menurut kedalamannya.

          Luka Bakar (Burn) bag.I

          Filed under: K D M — ROBBY BEE @ 7:22 AM

          A. Pengertian

          Luka bakar (burn) adalah lesi jaringan akibat terbakar oleh bahan kimia, panas kering, arus listrik, nyala api, friksi atau radiasi; diklasifikasi menjadi ketebalan penuh dan parsial seseuai dengan kedalaman kulit yang mengalami kerusakan: luka bakar ketabalan penuh memerlukan tandur kulit.( Hancock Christine, 1999 ). An energy transfer from a heat source to the body, heating the tissue enough to cause gamage, will result in a burn injury. ( Dolan et all, 1999 ) Luka bakar adalah suatu keadaan kerusakan jaringan tubuh (kulit) yang disebabkan oleh berbagai hal antara lain jilatan api, air panas, listrik dan zat kimia. ( Dr. Med. A. Ramli & Pamoentjak, 1996 ).

          B. Anatomi fisiologi Kulit

          Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasi dari lingkungan hidup manusia. Luas kulit orang dewasa sekitar 15 m2 dengan berat kira-kira 15 % dari berat badan. Kulit merupakan organ yang essensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan, kulit juga sangat komplek, elastis dan sensitif bervariasi pada keadaan iklim, umur, seks, ras dan juga tergantung pada lokasi tubuh. Warna kulit juga berbeda-beda, mulai dari kulit yang berwarna terang (fair skin), pirang dan hitam, warna merah muda pada telapak kaki dan tangan bayi serta warna hitam kecoklatan pada genitalia orang dewasa. Kulit bervariasi dalam hal lembut, tipis, dan tebalnya; kulit yang elastis dan longgar terdapat pada palpebra, bibir dan preputium, kulit yang tebal dan tegang terdapat pada telapak kaki dan tangan orang dewasa, kulit yang tipis terdapat, pada muka, yang lembut pada leher dan badan, serta yang berambut kasar terdapat pada kepala.

          Secara histopatologik, kulit secara garis besar tersusun atas 3 lapisan utama, yaitu;

          a. Lapisan Epidermis atau kutikel Terdiri atas : stratum korneum, yang merupakan lapisan kulit paling luar dan terdiri atas beberapa lapis sel-sel gepeng yang mati, tidak berinti, dan protoplasmanya telah berubah menjadi keratin, Stratum lusidum, merupakan lapisan sel-sel yang tidak berinti dengan protoplasma yang telah berubah menjadi protein yang disebut eleidin. Lapisan tersebut tampak lebih jelas di telapak tangan dan kaki, Stratum granulosum, merupakan dua atau tiga lapis sel-sel gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar dab terdapat inti diantaranya. Butir-burti kasar ini terdri atas keratohyalin. Mukosa biasanya tidak mempunyai lapisan ini, stratum granulosum juga terlihat ditelapak tangan dan kaki, Stratum spinosum, disebut juga prickle cell layer (lapisan akanta) terdri antara beberapa lapis sel yang berbentuk poligonal yang besarnya berbeda-beda karena adanya proses mitosis. Protoplasmanya jernih karena banyak mengandung glikogen, dan inti terletak di tengah-tengah. Sel-sel ini makin dekat ke permukaan makin gepeng bentuknya, dan diantara sel-sel stratum spinosum terdapat jembatan-jembatan antar sel yang terdiri dari atas protoplasma dan tonofibril atau keratin. Perlekatan antar jembatan-jembatan ini membentuk ‘penebalan bulat kecil yang disebut nodulus bizzozero. Diantara sel-sel spinosum terdapat pula sel langerhan. Sel-sel spinosum banyak mengandung glikogen, Stratum basale, merupakan sel-sel berbentuk kubus atau kolumnar yang tersusun vertikal pada perbatasan dermo-epidermal berbaris seperti pagar (palisade). Lapisan ini merupakan lapisan epidermis yang paling bawah. Sel-sel basal ini mengadakan mitosis dan berfungsi reproduktif. Laspisan ini terdiri dari dua jenis sel yaitu; sel-sel yang berbentuk kolumnar dengan protoplasma bisofilik, inti lonjong dan besar dihubungkan satu dengan yang lain oleh jembatan antar sel dan sel pembentuk melanin (melanosit) atau clear cell.

          b. Lapisan dermis (korum, kutis vera, true skin ). Terdapat dibawah epidermis dan jauh lebih tebal. Lapisan ini terdiri atas lapisan elastik dan fibrosa padat dengan elemen-elemen seluler dan folikel rambut. Secara garis besar dibagi menjadi 2 bagian, yaitu; pars papilare dan pars retikulare.

          c. Lapisan subkutis (hipodermis). Adalah kelanjutan dermis, terdiri dari atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak didalmnya. Sel lemak merupakan sel yang bulat, besar, dengan inti yang terdesak ke pinggir sitoplasma yang bertambah. Sel-sel ini membentuk kelompok yang dipisahkan satu dengan yang lain oleh trabekula yang fibrosa. Lapisan sel-sel lemak disebut panikulus adiposa, yang berfungsi sebagai cadangan makanan. Pada lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah dan getah bening, ketebalan jaringan lemak tidak sama tergantung pada lokasinya. Di abdomen dapat mencapai kedalaman 3 cm, didaerah kelopak mata dan penis sangat sedikit. Lapisan lemak ini juga merupakan bantalan. Vaskularisasi kulit diatur oleh dua pleksus yaitu pleksus yang terletak dibagian atas dermis disebut pleksus superfisialis dan pleksus yang terletak di subkutis yang disebut pleksus profunda. Pleksus dibagian dermis mengadakan anastomosis di papil dermis, pleksus yang di subkutis dan pars retikular juga mengadakan anastomosis, dibagian ini pembuluh darah berukuran lebig besar. Bergandengan dengan pembuluh darah yang terdapat pada saluran getah bening. Walaupun demikian sebenarnya tidak ada garis tegas yang memisahkan dermis dan subkutis. Secara fisiologis kulit mempunyai beberapa fungsi diantaranya adalah; fungsi proteksi, absorbsi, ekspresi, persepsi, termoregulasi, pembentukan pigmen dan keratinisasi. (count..)

          « Newer PostsOlder Posts »

          The Banana Smoothie Theme. Blog pada WordPress.com.

          Ikuti

          Get every new post delivered to your Inbox.